Apa Itu Allah?
Dalam setiap bahasa, terdapat satu atau lebih terma yang digunakan untuk mengacu pada Tuhan, atau kadang pada dewa-dewi yang derajatnya lebih rendah. Hal ini tidak berlaku pada Allah. Allah adalah nama personal yang mengacu pada Satu Tuhan yang sebenarnya. Tidak ada hal lain yang bisa dipanggil dengan sebutan Allah. Terma “Allah” tidak mempunyai makna plural atau pun gender. Hal ini menunjukkan keunikan jika diperbandingkan dengan kata dewa (god), yang mempunyai bentuk plural, dewa-dewa (gods), atau bentuk feminim, dewi (goddess). Yang menarik untuk disimak adalah, Allah merupakan nama Tuhan dalam bahasa Aramaic, yaitu bahasa yang digunakan oleh Jesus, yang juga merupakan bahasa serumpun dengan bahasa Arab.
Satu Tuhan yang benar merupakan refleksi keunikan konsep Islam mengenai Tuhan. Bagi seorang muslim, Allah adalah Maha Esa, Pencipta dan Pemelihara alam semesta. Tak ada sesuatu pun yang menyerupai Nya, dan tak ada yang bisa menyamai Nya. Ketika Nabi Muhammad SAW ditanya oleh penentangnya untuk menjelaskan tentang Allah, jawaban beliau datang langsung dari Allah dalam bentuk
1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa.
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
4. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."
Beberapa orang non-muslim mengklaim Tuhan dalam Islam sebagai Tuhan yang kaku dan kejam, yaitu Tuhan yang menuntut kepatuhan penuh. Dikatan pula bahwa Allah tidak bersifat mencintai dan menyayangi. Tak ada yang lebih buruk dari tuduhan-tuduhan semacam ini. Patut diketahui bahwa dengan satu perkecualian, dari 114 surah yang ada dalam Al Qur’an senantiasa dimulai dengan ayat yang berbunyi:
1. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang[1].
Dalam sebuah sunnah, Nabi Muhammad SAW memberitahu kita bahwa, “Allah lebih pengasih dan penyayang dibandingkan ibu terhadap anaknya”.
Namun Tuhan juga bersifat adil. Karenanya, orang-orang yang berbuat kejahatan dan para pendosa harus menjalani hukuman dan juga kebaikan. Pahala dan perhatian khusus. Sesungguhnya, atribut Allah yang Maha Pengampun termanifestasikan dalam atribut Alla yang Maha Adil. Orang-orang yang selama hidupnya menderita demi berpegang teguh pada perintah Nya tentu tidak akan diperlakukan sama dengan mereka yang melakukan kekerasan dan eksploitasi terhadap orang lain. Mengharapkan adanya perlakuan sama terhadap mereka sama artinya dengan menolak kebenaran akan perhitungan Tuhan di akhirat dan karenanya menegasikan makna keunggulan menjaga nilai moral dan kebenaran di dunia. Ayat Al Qur’an berikut secara jelas menunjukkan hal tersebut:
34. Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) syurga-syurga yang penuh kenikmatan di sisi Tuhannya.
35. Maka apakah patut kami menjadikan orng-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir) [1496]?
36. Atau Adakah kamu (berbuat demikian): bagaimanakah kamu mengambil keputusan?
Islam menolak karakterisasi Tuhan dalam bentuk manusia atau mendeskripsikan Nya lenih menyukai individu atau bangsa tertentu berdasarkan kekayaan, kekuasaan atau ras. Allah SWT menciptakan manusia setara. Manusia hanya bisa membedakan dirinya dari yang lain dan mendapatkan cinta Nya melalui perbuatan baik dan keimanan.
Konsep mengenai Tuhan beristirahat pada hari ketujuh penciptaan alam semesta, atau Tuhan bertarung dengan salah satu prajurit Nya, atau Tohan adalah perancang yang benci terhadap umat manusia, atau Tuhan berinkarnasi dalam wujud manusia dipandang sebagai penyimpangan terhadap pandangan Islam.
Penggunaan kata “Allah” secara unik sebagai nama personal Tuhan merupakan refleksi dari penekanan Islam terhadap kemurnian keimanan terhadap Tuhan, yang merupakan esensi dari pesan yang disampaikan semua utusan Tuhan. Karenanya, Islam memandang asosasi nilai-nilai manusia dan dewa-dewi pada Tuhan sebagai dosa besar yang tak akan pernah diampuni, meskipun Dia mungkin mengampuni dosa-dosa lain.
[Patut dicatat bahwa yang dimaksud di atas hanya berlaku pada orang-orang yang meninggal dalam keadaan menyekutukan Tuhan dengan yang lain. Sementara, bagi yang masih hidup mungkin bisa dimaafkan jika Tuhan menghendaki-MSA of USC]
Pencipta pasti berbeda dengan hal-hal yang diciptakan Nya, karena jika Dia serupa dengan mahluk ciptaan Nya, maka Dia pasti bersifat temporal dan karenanya pasti butuh Pencipta. Maka jika Pencipta tidak bersifat temporal, maka Dia pasti lah abadi. Sehingga, jika Dia abadi, maka Tuhan tidak diciptakan dan jika tak ada hal lain di luar Nya yang menyebabkannya bertahan, maka Dia bersifat Esa. Dan jika Tuhan tidak tergantung hal lain untuk terus ada, maka keberadaannya tak akan berakhir. Karenanya, Sang Pencipta bersifat abadi dan kekal selamanya: “Dia adalah Awal dan Akhir”.
Dia bersifat Tak Tergantung atau dalam terminologi Al Qur’an “Al-Qayyum”. Sang Pencipta tidak hanya menciptakan dalam artian menjadikan sesuatu ada semata. Namun juga memelihara dan mencabut kehidupannya serta menjadi sebab utama apapun yang terjadi pada mahluk ciptaan tersebut.
62. Allah menciptakan segala sesuatu dan dia memelihara segala sesuatu.
63. Kepunyaan-Nyalah kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi. dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, mereka Itulah orang-orang yang merugi.
6. Dan tidak ada suatu binatang melata[709] pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya[710]. semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).
[709] yang dimaksud binatang melata di sini ialah segenap makhluk Allah yang bernyawa.
[710] menurut sebagian ahli tafsir yang dimaksud dengan tempat berdiam di sini ialah dunia dan tempat penyimpanan ialah akhirat. dan menurut sebagian ahli tafsir yang lain maksud tempat berdiam ialah tulang sulbi dan tempat penyimpanan ialah rahim.
Sifat-Sifat Tuhan
Jika Sang Pencipta bersifat abadi dan kekal, maka sifat-sifat Nya pasti juga abadi dan kekal. Dia tak mungkin kehilangan sifat tertentu atau memperoleh sifat baru. Jika demikian, maka sifat-sifat Nya bersifat absolut. Pertanyaanya sekarang, mungkinkan ada lebih dari satu Pencipta dengan sifat-sifat yang absolut. Bisakah, misalnya, ada dua Pencipta yang sama-sama berkuasa? Jika dipikir hal tersebut tak mungkin terjadi.
Al Qur’an merangkum argumen akan hal ini melalui ayat-ayat berikut:
91. Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada Tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada Tuhan beserta-Nya, masing-masing Tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu,
22. Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu Telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.
Keesaan Tuhan
95. Ibrahim berkata: "Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu ?
16. Katakanlah: "Siapakah Tuhan langit dan bumi?" Jawabnya: "Allah". Katakanlah: "Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?". Katakanlah: "Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?" Katakanlah: "Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan yang Maha Esa lagi Maha Perkasa".
Mengenai para pemuja benda-benda langit, Al Qur’an mengutip kisah Ibrahim:
76. Ketika malam Telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam."
77. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, Pastilah Aku termasuk orang yang sesat."
78. Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, Ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, Sesungguhnya Aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.
79. Sesungguhnya Aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan Aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.
Perilaku Orang Beriman
Untuk menjadi seorang muslim—berserah diri kepada Tuhan—sangat penting untuk beriman pada keesaan Tuhan, dalam artian Dia sebagai Sang Pencipta, Pemelihara, Penumbuh dan sebagainya. Namun keimanan semacam ini—selanjutnya disebut "Tawhid Ar-Rububiyyah"—belumlah cukup. Banyak pemuja berhala (idol) percaya bahwa hanya Tuhan Maha Kuasa yang bisa melakukan semua itu, namun percaya semacam itu tak cukup untuk menjadikan mereka muslim. Tawhid Ar-Rububiyyah musti ditambah dengan Tawhid Al'uluhiyyah—pengetahuan mengenai kebenaran bahwa hanya Tuhan semata yang layak disembah, dan karenanya menghindari penyembahan terhadap benda atau hal lain.
Dengan pencapaian pengetahuan mengenai keesaan Tuhan semacam ini, seorang manusia akan mempunyai keimanan yang konstan terhadap Nya, dan mencegah hal apapun mempengaruhinya untuk menyimpang dari kebenaran.
Ketika keimanan masuk ke dalam hati seseorang, maka ia akan mempengaruhi kondisi mental orang bersangkutan, yang menghasilkan tindakan-tindakan tertentu. Sehingga, secara bersama-sama, kondisi mental dan tindakan yang diakibatkannya merupakan bukti dari keimanan yang benar. Rasulullah berkata, “Iman adalah apa yang ada di dalam hati dan dibuktikan dengan prbuatan.” Kondisi mental yang paling utama adalah rasa syukur kepada Tuhan, yang bisa dikatakan sebagai esensi ibadah.
Rasa syukur sangat penting, sehingga mereka yang mengingkari Tuhan disebut sebagai “kafir”, yang artinya ‘orang yang mengingkari kebenaran’ dan juga ‘orang yang tidak tahu terima kasih/bersyukur’.
Seorang yang beriman mencintai dan bersyukur kepada Tuhan atas berkah yang dianugerahkan Tuhan kepadanya, namun juga tetap sadar akan fakta bahwa segala perbuatan baiknya, baik fisik maupun mental, masih jauh dari memadahi apa yang diperintahkan Tuhan. Dan dia juga senantiasa takut akan hukuman Tuhan baikdi dunia maupun akhirat atas kesalahan-kesalahannya. Karenanya, dia takut kepada Tuhan, berserah diri dan menyembah Nya dengan penuh kerendahan hati. Seseorng tak akan bisa berada dalam kondisi mental semacam ini kecuali seluruh jiwa dan pikirannya diarahkan kepada tuhan. Mengingat Tuhan merupakan kekuatan hidup dari keimanan, dimana tanpanya keimanan akan pudar dan tersapu hilang.
Al Qur’an berusaha mendorong rasa syukur semacam ini dengan menyebutkan secara berulang sifat-sifat Allah SWT. Kita akan temukan sifat-sifat Allah SWT disebutkan dalam ayat-ayat Al Qur’an berikut ini.
22. Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
23. Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, raja, yang Maha suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan Keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha Perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
24. Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk Rupa, yang mempunyai asmaaul Husna. bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. dan dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
225. Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun[140].
[140] Halim berarti penyantun, tidak segera menyiksa orang yang berbuat dosa.
171. Wahai ahli kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu[383], dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya[384] yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya[385]. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari Ucapan itu). (itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. cukuplah Allah menjadi Pemelihara.
[383] Maksudnya: janganlah kamu mengatakan nabi Isa a.s. itu Allah, sebagai yang dikatakan oleh orang-orang Nasrani.
[384] Maksudnya: membenarkan kedatangan seorang nabi yang diciptakan dengan kalimat kun (jadilah) tanpa bapak yaitu nabi Isa a.s.
[385] disebut tiupan dari Allah Karena tiupan itu berasal dari perintah Allah.
sources:
http://www.usc.edu/dept/MSA/fundamentals/tawheed/conceptofgod.html















0 Comments:
Post a Comment
<< Home